untuk saling mengingatkan.

Saya baru saja melewati sesi tanya jawab dengan seorang teman. Saya gelisah sebenarnya dengan sikap saya yang lebih banyak diam ketika berhadapan dengan yang tidak sesuai dengan keimanan saya atau yang saya tahu benar bahwa itu salah. Jadi pertanyaannya, apakah saya akan biarkan mereka dengan alasan, mereka sudah dewasa untuk tahu mana baik dan buruk atau perlukah saya mengingatkan?

Saya tidak biasa bersikap kritis. Mungkin karena saya lahir di keluarga dengan kebiasaan untuk menerima, diperintah dan untuk menurut, tanpa banyak bertanya. Bukan otoriter sih, tapi memang ibu saya cukup cerewet untuk selalu mengingatkan kami *nyengir. Dan rata-rata kami memang anak-anak penurut, tidak banyak tingkah waktu kecil. Baru ketika dewasa, kami mulai banyak ‘memberontak’ dengan banyak pengaruh dari luar.

Ya, usai sesi tanya jawab dengan teman, saya mulai berpikir. Kalau mampu, kenapa tidak sih. Karena saya tidak terbiasa, rasanya memang seperti saya ini sok tahu. Tapi setiap muslim punya kewajiban untuk saling mengingatkan kok, memperbaiki kesalahan, dan sama-sama belajar tentang yang benar dari sudut pandang hukum Islam. Ini sama saja dengan berdakwah, tho.

Saya diingatkan tentang sabda Rasulullah saw. Ada 3 pahala amal yang tetap kekal, walaupun kita sudah meninggal nanti, yaitu (1) Amal jari’ah (2) Ilmu yang bermanfaat, (3) Dan anak shaleh yang senantiasa mendoakan kita (hadits riwayat Imam Bukhari & Muslim). Kalau ilmu setitik saja kita bisa bagi kepada orang-orang terdekat kita, dan orang itu melakukannya seumur hidup mereka, wah pahala sebesar apa yang bisa kita dapatkan? Subhanalloh.

Lalu saya bertanya lagi. Kalau nanti kita dibilang sok tahu, bagaimana? Nah kita juga harus lebih kritis dong. Sampaikan pikiran dan adu lah dengan landasan hukum Islam yang benar. Makanya kita juga harus banyak-banyak belajar, supaya kita tahu betul permasalahan yang kita ucapkan. Jika kita bisa memberikan argumen yang shahih dalam hukum Islam, tentu saja akan lebih baik dan akurat.

Saya diingatkan lagi. Bagi Alloh, yang terpenting adalah bukan hasil dari usaha kita, namun terpenting adalah bagaimana usaha itu sendiri dilakukan. Betul juga, tidak perlu terburu-buru, coba saja mulai dari lingkungan terdekat kita. Tentu saja titik mulainya ya dari diri sendiri dulu 🙂 ‎​انشـــــاءالله bisa, mariii..

Advertisements

Leave a comment

Filed under Apa Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s