Puasa Sunah Syawal atau Qadha Puasa?

Salam.

Mana yang didahulukan, berpuasa sunah Syawal atau qadha puasa Ramadhan? Saya cukup bingung untuk mengambil keputusan ini, karena saya ingin mendapatkan dalil yang shahih dalam permasalahan ini.

Oke, setelah membaca-baca beberapa pendapat ulama, saya juga jadi bingung. Mayoritas ulama mengatakan lebih baik melakukan yang wajib daripada yang sunnah. Ada juga yang berkata dahulukan Syawal. Ada juga yang membolehkan dua niat dalam satu puasa. Saya yakin sih masing-masing memiliki dalil sendiri untuk pendapat yang diambil.

Puasa sunnah Syawal sendiri hukumnya sunah dan bukan wajib seperti sabda Rasullullah saw, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang setahun” (Imam Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa puasa enam hari bisa dilakukan secara berurutan atau tidak, karena ungkapan hadis itu mutlak. Akan tetapi menyegerakan ibadah tersebut adalah lebih utama, sesuai dengan firman Allah swt, “.. dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabb-ku agar supaya Engkau ridha (kepadaku)” (Thaha:84).

Balik lagi ke pertanyaan awal. Saya paham puasa Syawal adalah puasa sunnah. Namun waktunya juga hanya di bulan Syawal saja. Sedangkan kita kadang mendapatkan halangan untuk berpuasa, seperti saya yang sebagai wanita mengalami haid. Waktu untuk mengerjakan puasa Syawal akan semakin sempit pula. Lalu bagaimana?

“Sesungguhnya, Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran.” (QS Al-Baqarah [2: 185).

Ayat di atas menjadi tuntunan saya dalam bersikap. Memudahkan bukan berarti menggampangkan lho. Dalam beribadah, kita juga melihat kemampuan diri sendiri. Saya berniat untuk mengambil keutamaan puasa Syawal, lalu segera meng-qadha puasa setelah selesai puasa sunnah tersebut. Waktu untuk meng-qadha puasa Ramadhan, Insya Allah, masih panjang hingga ke Ramadhan berikutnya. Untuk mengganti puasa Ramadhan, Allah pun membolehkan kita melakukannya di bulan lain, seperti disebutkan berikut ini,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan (puasa), maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al Baqarah: 184).

Wallahu ‘Alam. Mahasuci Allah, tidak ada ilmu pada kita selain dari apa yang Dia ajarkan. Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada hamba-Nya yang ber-istiqamah.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Puasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s